Chohadi SP

Islam dan Pendidikan Masa Depan

2 Mei 2009

DASAR-DASAR AKHLAK ISLAM

Choiruddin Hahdhiri Suprapto
SMP Negeri 1 Takeran Magetan

01. Pengertian Akhlak
1. Menurut Bahasa:
Akhlak berasal dari kata akhlaqun, bentuk jama’, sedangkan bentuk tunggalnya adalah khuluq yang berarti
a. perangai atau kelakuan
b. budi pekerti atau moral
c. kebiasaan atau tabiat.

2. Menurut Istilah Syar’i
a. Akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang menimbulkan terjadinya perbuatan-perbuatandengan mudah (Sayyid Sabiq).
b. Akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang timbul dari padanya perbuatan-perbuatandengan mudah tanpa memerlukan petimbangan pikiran, sehingga keadaan itu menjadikebiasaan (Imam Al-Ghozali, IhyaUlumiddin).
c. Akhlak merupakan ungkapan kondisi jiwa, yang begitu mudah bisa menghasil-kan perbuatan, tanpa membutuhkan pemi-kiran dan pertimbangan. Jika perbuatan itu baik, maka disebutakhlak yang baik, dan jika buruk disebut akhlak yang buruk. (Ibnu Qudamah, MinhajulQoshidin)

02. Unsur Pokok Akhlak
Akhlak memiliki tiga unsur pokok:
1. Perbuatan sifat/keadaan jiwa seseorang.
Pembicaraan akhlak pada pokoknya berbicara keadaan atau gejala-gejala jiwa seseorang yang menimbulkan suatu perbuatan. Perbuatan-perbuatan orang yang sehat akalnya akan muncul dari kehendak jiwa atau hatinya
2. Perbuatan yang muncul bukan paksaan, tetapi dengan mudah dilakukan tanpa pertimbangan akal.
Akan tetapi ada kalanya, bahkan tidak jarang perlu pemaksaan pada tahap awal sebagai sutu bentuk pengajaran. Dengan pengajaran itulah akhlak bisa berubah.
3. Perbuatan yang dilakukan itu menjadi kebia-saan sehari-hari.
Perbuatan yang dilakukan sehari-hari dengan spontanitas menanggapi berbagai permasalahan itulah gambaran yang muncul sebagai bentuk akhlak yang baik atau yang buruk.

03. Hubungan Akhlak dengan Adab
1. Adab berarti tatacara, tatatertib, atau tata aturan; sedangkan akhlak berarti budi pekerti, moral, tabiat, atau perangai
2. Adab membicarakan tatatertib atau tatacara yang sudah diatur sedemikian rupa; sedangkan akhlak membicarakan perilaku yang muncul dari sifat jiwa, bisa berupa perangai yang baik maupun yang buruk.
3. Adab Islamiyah berarti tatacara atau tatatertib menurut ajaran Islam, dan begitu seharusnya setiap muslim mengikuti dan mentaati nya; sedangkan akhlak Islamiyah berarti akhlak atau moral menurut ajaran Islam.
4. Kesimpulannya:
a. Jika kata adab dan akhlak masih berdiri sendiri maka pada keduanya tampak jelas perbedaannya.
b. Jika kata adab dan akhlak sudah dipadukan dengan kataIslamiyahmaka arti keduanya hampir saja sama dan sulit untuk dibedakan; karena baik adab Islamiyah maupun akhlak Islamiyah berisi ajaran berperilaku yang baik menurut Islam atau menjauhi perilaku yang bertentangan dengan ruh dan ajaran Islam.

04. Hubungan Akhlak dengan Amal Ibadah
1. Pembicaraan akhlak berarti membicarakan perilaku-perilaku atau kebiasaan-kebiasaan manusia.
2. Kebiasaan-kebiasaan manusia berarti amalan-amalan atau perbuatan-perbuatan manusia. Jadi akhlak seseorang berhu-bungan erat dengan amal orang tersebut.
3. Jika seseorang telah berakhlak Islamiyah berarti ia telah berbuat atau beramal sesuai dengan ajaran Islam.
4. Jika yang berakhlak Islamiyah itu seorang muslim, maka dapat disebut sebagai amal ibadah atau amal sholihnya yang akan mendapat pahala di sisi Allah SWT.
5. Jika yang berakhlak Islamiyah itu bukan orang Islam, maka tidak dapat mendatangkan pahala dari sisi Allah; hanya mendapat pujian dari manusia.
6. Jika seseorang berakhlak yang buruk, sedangkan ia seorang muslim, maka telah melanggar akhlak Islamiyah. Pelanggaran terhadap aturan, tatatertib, atau hukum maka akan mendatangkan dosa dan siksa bagi dirinya.

05. Hubungan Akhlak dengan Iman
1. Iman atau pengakuan terhadap Islam dan seluruh ajaran-ajarannya adalah kunci bernilainya amal ibadah seseorang.
فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ
Maka barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya.” (QS. Al-Anbiya’ 21:94)
2. Amal ibadah itu sendiri akan dihargai oleh Allah dengan pahala jika dilakukan dengan dua syarat:
a. dengan niat ikhlas, karena mencari ridho Allah;
b. dengan mencontoh rasulullah dan bukan membuat cara-cara sendiri.
3. Seorang muslim yang telah berakhlak Islamiyah sama artinya ia telah beribadah kepada Allah dengan akhlaknya, sehingga Allah akan memberinya balasan yang berupa pahala.
4. Orang non-muslim yang berakhlak Islamiyah, atau beriabadah dengan cara dalam jenis apapun, maka tidak ada amal perbuatan yang dinilai oleh Allah sebagai ibadah yang mendatangkan pahala. Hal ini disebabkan oleh tidak ada iman.
5. Pendek kata, akhlak itu dikatakan akhlak Islamiyah jika didasarkan ajaran Islam, siapa pun yang melakukan; tetapi ia mendapatkan pahala jika didasari iman dan memenuhi syarat ibadah.

06. Sumber Akhlak Islamiyah
1. Akhlak Islamiyah adalah akhlak yang berdasarkan ajaran-ajaran Islam. Jadi, akhlak Islamiyah bersumber pada ajaran-ajaran Islam, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah.
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
" Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah (sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran 3:164)
2. Akhlak atau ajaran budi pekerti secara umum yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah boleh diamalkan.
3. Akhlak atau ajaran budi pekerti yang menurut pendapat umum masyarakat baik, tetapi ber-tentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, maka haram hukumnya untuk diamalkan.
4. Baik buruknya akhlak manusia bukan dipan-dang oleh kebanyakan pendapat masyarakat, tetapi oleh dasar hukum yang mutlak, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah.
5. Ajaran apa pun, termasuk ajaran akhlak yang hanya bersumber pada akal pikiran manusia, maka bersifat nisbi atau relatif; sebab akal itu terbatas, sedangkan masyarakat berkembang.
6. Ajaran apapun yang bersumber pada Hukum Allah adalah mutlak kebe-narannya, karena Allah Maha Mengetahui segala apa yang telah, sedang, dan akan terjadi pada manusia dan alam semesta pada umumnya.

07. Sumber Pemikiran Ahlul Jahiliyah
Menurut Syaikh Ahmad din Abdurrohman, ada beberapa sumber atau sandaran pemikiran ahlul jahiliyah, yang kami sadur sebagai berikut.
1. Tidak memanfaatkan indera dengan sebaik-baiknya untuk meneliti dan mentadaburi alam raya, sehingga tidak bisa mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya. (QS. 7:178-179, 67:10)
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’ 17:36)
2. Tidak menggunakan akal dan hati secara maksimal untuk menerima kebenaran, sehingga nasihat Al-Quran, Al-Hadits yang disampaikan para ulama, atau dai tidak bisa diterima. (QS. 10:5, 29:43, 14:52, 13:19)
3. Lebih bersifat taklid (mengikuti tanpa mau berpikir kritis) kepada para ulama daripada ittiba’ (mengikuti dengan mencari dasar-dasar hukumnya) Rasulullah saw. (QS. 3:31, 5:63)
4. Lebih taklid kepada para pemimpin atau pembesar suatu negeri dan mementingkan persatuan dan budaya daripa mengikuti al-Quran dan Asd-Sunnah. (QS. 33:66-68)
5. Lebih taat kepada para sesepuh atau nenek moyangnya daripada dalil-dalil yang jelas kebenarannya. (QS. 2:170, 31:21, 5:104, 34:43)
6. Lebih mengikuti hawa nafsunya dan keinginannya sendiri daripada taat kepada hukum yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta. (QS. 45:23, 25:43-44, 4:135)
7. Lebih mengikuti prasangka-prasangka daripada menggunakan penalaran logis yang berdasar pada sumber dari yang tidak akan salah, yaitu Al-Quran dan Al-Hadits. (6:116, 10:35-36, 53:28)
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus 10:36)
8. Lebih menyandarkan keyakinan dan perilakunya pada sihir, jin dan setan daripada yakin akan kebenaran yang datang dari Allah. (QS. 2:102-103, 10:78-79, 20:63-67)

08. Rasulullah sebagai Tauladan Hidup
1. Rasulullah memiliki akhlak yang mulia,
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau Muhammad sungguh mempunyai akhlak yang luhur.” (QS. 68:4).
2. Akhlak Nabi SAW adalah Al-Quran. Ketika A’isyah istri Nabi, ditanya tentang akhlak Rasulullah, beliau menjawab, “Kaana khuluquhul Quran, Adalah akhlak Rasulullah itu Al-Quran.”
3. Pada dasarnya apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah mengikuti wahyu.
إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ
Katakanlah, “…. Aku tidak lain hanyalah mengkikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanya seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.” (QS. 46:9).
4. Ucapan Rasulullah dituntun oleh wahyu. “….Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. 53:1-4).
5. Pribadi Rasulullah adalah tauladan yang baik. “Sungguh pada diri Rasulullah itu ada tauladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir, dan banyak ingat kepada Allah.” (QS. 33:21).

09. Tujuan Akhlak
1. Rasulullah SAW diutus untuk menyempur-nakan akhlak.
Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhori dan Malik).
2. Orang yang terbaik di antara orang beriman adalah orang yang baik akhlaknya.
اِنَّ مِنْ حِيَارِكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا
Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR. Bukhori dan Muslim).
3. Kisah para Nabi dan Rasul tidak pernah dicela dan dimusuhi oleh orang-orang kafir karena akhlaknya; tetapi para nabi dan Rasul itu dicaci maki dan dimusuhi karena menegakkan iman atau haq.
4. Jadi, tujuan utama akhlak atau ilmu akhlak adalah untuk membentuk pribadi-pribadi muslim yang memiliki budi pekerti yang mulia sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.
5. Akhlak atau ilmu akhlak bukan sekedar dipelajari untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk; akan tetapi yang lebih penting adalah mempratik-kannya dalam kehidupan sehari-hari.

10. Peranan Akhlak
1. Akhlak merupakan salah satu tujuan diutus-nya Rasulullah.
اِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ
Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Hakim).
2. Akhlak yang bagus sebagai standart atau berpengaruh untuk kesempurnaan iman seseorang. “Sesempurna-sempurna iman seseorang di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud).
3. Akhlak yang baik dapat memperberat timbangan kebajikan. “Tidak ada sesuatu yang lebihberat timbangannya di mizan kecuali kusnul khuluq/baiknya akhlak.” (HR. Ahmad danAbuDawud).
4. Akhlak yang tinggi menyebabkan orang masuk jannah. (QS. 3:133-134).
5. Akhlak yang mulia dapat menjadikan dekat dengan Rasulullah di hari kiamat. “Sesung-guhnyaorang yang paling aku sukai dan paling dekat denganku tempat duduknya pada harikiamatadalah orang-orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR. Ahmad dan AbuDawud).
6. Akhlak yang baik menjadkan seseorang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.
اَنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقًا
Sesunguhnya orang yang paling kucintai di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya.” (HR. Bukhari)
Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Hakim)

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda